Rabu, 26 November 2025

Memahami prinsip kerja dan teknologi fiber optic.

Memahami Prinsip Kerja dan Teknologi Fiber Optic

Memahami Prinsip Kerja dan Teknologi Fiber Optic

Artikel ini membahas cara kerja fisika serat optik, teknologi WDM, amplifier optik seperti EDFA dan Raman, arsitektur jaringan PON (GPON, XGS-PON), hingga alat pengujian seperti OTDR.

Serat Fiber Optic
Cahaya merambat di dalam inti serat optik

1. Prinsip Fisika: Total Internal Reflection

Fiber optic bekerja berdasarkan prinsip Total Internal Reflection, yaitu kondisi ketika cahaya dipantulkan kembali sepenuhnya ke dalam inti (core) karena perbedaan indeks bias antara core dan cladding. Inilah yang membuat cahaya dapat berjalan puluhan kilometer tanpa keluar dari serat.


2. Sistem Transmisi: Laser, Modulasi, dan Photodiode

Sistem dasar fiber optic terdiri dari:

  • Sumber cahaya: LED untuk multimode; Laser (DFB) untuk singlemode jarak jauh.
  • Modulasi: cahaya dimodulasi menjadi bit digital (NRZ, PAM4, QAM).
  • Detektor: photodiode (PIN/APD) mengubah cahaya menjadi arus listrik.

Untuk sambungan sangat cepat (40G/100G/400G), digunakan teknik coherent detection yang lebih sensitif.


3. WDM: Menggabungkan Banyak Kanal dalam Satu Serat

Teknologi Wavelength Division Multiplexing (WDM) memungkinkan puluhan hingga ratusan kanal optik berjalan bersamaan pada panjang gelombang berbeda.

  • CWDM — jumlah kanal lebih sedikit, jarak kanal lebih lebar.
  • DWDM — puluhan hingga ratusan kanal, dipakai pada backbone & submarine.
DWDM Fiber Optic
DWDM memungkinkan banyak kanal berjalan dalam satu serat

4. Penguat Optik: EDFA & Raman

  • EDFA (Erbium-Doped Fiber Amplifier) — penguat paling umum untuk 1550 nm. Dapat menguatkan banyak kanal sekaligus.
  • Raman Amplifier — penguatan terjadi di serat transmisi melalui efek Raman, sangat efektif untuk jarak jauh & mengurangi noise.
  • SOA — penguat berbasis semikonduktor, bentuk compact tapi noise lebih tinggi.
Catatan: Kombinasi EDFA + Raman sering digunakan pada jaringan backbone untuk jarak 80–200 km per hop.

5. Teknologi Akses: PON (GPON, XGS-PON, 50G-PON)

Jaringan akses fiber ke rumah menggunakan arsitektur Passive Optical Network (PON).

  • GPON: 2.5 Gbps downstream / 1.25 Gbps upstream.
  • XGS-PON: 10 Gbps simetris (dipakai ISP modern).
  • 50G-PON: mulai diadopsi di negara maju sebagai generasi berikutnya.

6. Pengujian Fiber: OTDR, Power Meter, BER Test

Teknisi fiber menggunakan berbagai alat untuk memastikan kualitas jaringan:

  • OTDR — melihat rute serat, titik sambungan, redaman, dan lokasi kerusakan.
  • Optical Power Meter — mengukur level daya optik.
  • BER Tester — memastikan rasio error rendah pada kecepatan tinggi.
OTDR Fiber Optic
OTDR digunakan untuk mendeteksi titik kerusakan pada serat optik

Kesimpulan

  • Fiber optic bekerja dengan memanfaatkan total internal reflection.
  • DWDM dan EDFA memungkinkan jaringan backbone berkapasitas besar.
  • PON menjadi teknologi utama untuk internet rumah & bisnis.
  • Pengujian seperti OTDR sangat penting untuk kualitas jaringan.

Referensi

  • The Fiber Optic Association (FOA)
  • Wikipedia — Optical Fiber
  • FS.com — EDFA & DWDM Technology
  • ITU-T Standards — GPON, XGS-PON, 50G-PON

Memilih kabel fiber optic sesuai kebutuhan.

Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan (Panduan Lengkap)

Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan — Panduan Lengkap

Panduan ini membantu kamu menentukan kabel fiber optic yang tepat berdasarkan jarak, lingkungan pemasangan, kebutuhan bandwidth, serta anggaran. Kami juga menyertakan checklist pembelian, tips instalasi, dan metode pengujian yang perlu diketahui.

Close up serat fiber optic
Close-up serat fiber optic — visualisasi jalur cahaya pada core fiber

1. Langkah Awal: Tentukan Kebutuhan Dasar

Sebelum beli kabel, jawablah pertanyaan berikut:

  • Apa jarak transmisi? (meter, kilometer)
  • Indoor atau outdoor (atau keduanya)?
  • Berapa bandwidth/kecepatan yang dibutuhkan sekarang & dalam 5–10 tahun ke depan?
  • Apakah perlu proteksi ekstra (armored, rodent-resistant, water-blocking)?
  • Berapa jumlah sambungan/port yang harus didukung sekarang dan rencana ekspansi?
Tip cepat: bila ragu, rencanakan sedikit lebih besar (lebih banyak core / tipe lebih tinggi) daripada kebutuhan saat ini — ini menghemat biaya upgrade kelak.

2. Single-Mode vs Multimode — Pilih Berdasarkan Jarak & Upgrade

Single-Mode (SM)

Core ≈ 8–10 µm. Biasanya menggunakan panjang gelombang 1310 nm / 1550 nm. Ideal untuk jarak jauh (km hingga ratusan km dengan amplifier/EDFA).

Kapan pakai? Backbone antar-gedung, ISP, FTTH, kabel bawah laut, link antar-kota.

Kelebihan: jarak sangat jauh, loss rendah, future-proof untuk kapasitas tinggi.

Kekurangan: perangkat transceiver & konektor lebih presisi → biaya awal lebih tinggi.

Multimode (MM)

Core ≈ 50 µm atau 62.5 µm. Umumnya dipakai pada 850 nm / 1300 nm. Cocok untuk jarak pendek–menengah (data center, gedung, kampus).

Kapan pakai? LAN, koneksi antar-rack/server, kampus, gedung perkantoran.

Kelebihan: biaya transceiver lebih rendah, pemasangan & terminasi lebih mudah.

Kekurangan: jarak terbatas; dispersi modal menambah penurunan performa pada jarak panjang.

AspekSingle-ModeMultimode
Core~8–10 µm~50 µm / 62.5 µm
Panjang gelombang1310 nm / 1550 nm850 nm / 1300 nm
JarakKm / ratusan km (dgn amplifier)Meter hingga ~2 km tergantung OM-class
BiayaLebih tinggi (transceiver laser)Lebih murah (LED/VCSEL)
Penggunaan tipikalBackbone, FTTH, ISPLAN, data center, short-reach

3. Multimode OM-Series (OM1 → OM5): Apa Bedanya?

Multimode modern diklasifikasikan OM1–OM5. Singkatnya:

  • OM1 (62.5 µm) — legacy, terbatas untuk 1G jarak sangat pendek.
  • OM2 (50 µm) — peningkatan OM1 untuk 1–10G pada jarak pendek.
  • OM3 (50 µm, laser-optimized) — populer untuk 10G, mendukung 40/100G pada jarak pendek (dengan MTP/MPO).
  • OM4 — lebih baik dari OM3 untuk 40/100G pada jarak lebih panjang.
  • OM5 — wideband multimode untuk SWDM (menggunakan beberapa panjang gelombang pada MM).
Rekomendasi: Untuk data center pilih OM3/OM4; untuk instalasi gedung baru, pilih OM3/OM4 untuk ketahanan upgrade 10/40/100G.

4. Struktur Kabel: Tight-Buffered vs Loose-Tube

Potongan kabel fiber loose-tube & tight-buffer
Loose-tube (outdoor) dan tight-buffer (indoor) — perbedaan konstruksi
  • Tight-buffered — serat dilapisi buffer rapat. Mudah diterminasi, ideal untuk indoor/patch-cords.
  • Loose-tube — serat "mengambang" dalam tabung, sering diisi gel atau water-blocking untuk tahan kelembapan. Cocok untuk outdoor / duct / ground.

5. Jacket & Proteksi — Material Penting

Jaket atau outer sheath menentukan keselamatan & ketahanan fisik kabel:

  • PVC — murah, umum; namun menghasilkan asap berbahaya saat kebakaran.
  • LSZH (Low Smoke Zero Halogen) — sedikit asap berbahaya; direkomendasikan untuk area publik/indoor.
  • Armored (metal/steel) — proteksi mekanik ekstra (anti-rodent, tahan gigit/tarik).
  • Gel-filled / water-blocking — mencegah air masuk pada loose-tube outdoor.
  • UV-resistant — diperlukan untuk kabel aerial/outdoor terpapar sinar matahari.

6. Jumlah Serat (Fiber Count) & Arsitektur Jaringan

Pilih fiber count berdasarkan skala dan rencana ekspansi:

  • 2–12 core — rumah, kantor kecil, FTTH drop.
  • 24–48 core — gedung besar, kampus.
  • 96, 144, 288+ core — backbone operator, provider, data center besar.
Praktik: Untuk proyek jangka panjang, pilih sedikit lebih tinggi (mis. 24 vs 12) agar ada cadangan untuk upgrade.

7. Konektor, Transceiver & Kompatibilitas

Konektor Umum

  • LC — small form factor, banyak dipakai di switch/SFP.
  • SC — mudah dipasang, umum pada panel ISP.
  • MTP/MPO — mass-fiber (12/24) untuk 40/100G.
  • ST — legacy (jarang di instalasi baru).

Transceiver & Modul

Pastikan transceiver (SFP, SFP+, QSFP, dsb.) kompatibel dengan tipe fiber (SM vs MM) dan jarak. Contoh: SFP-LX (SM, 1310 nm), SFP-SR (MM, 850 nm).


8. Checklist Teknis Sebelum Membeli

Gunakan checklist ini saat memilih kabel / vendor:

  • Apakah kabel Single-mode atau Multimode?
  • Apa OM-class (jika MM)? OM3/OM4/OM5?
  • Jumlah core (2 / 4 / 12 / 24 / 48 / 96)?
  • Jaket: PVC / LSZH / Armored / UV / Water-blocking?
  • Struktur: Tight-buffered / Loose-tube / Ribbon / Breakout?
  • Konektor yang diperlukan & kompatibilitas transceiver?
  • Spesifikasi tensile rating dan bend radius?
  • Garansi & sertifikasi (IEC, TIA, vendor datasheet)?

9. Instalasi & Pengujian (Praktik Lapangan)

Pemasangan fiber optic memerlukan ketelitian dan pengujian:

  • Patuhi bend radius (radius minimum pada kabel/patch cord).
  • Gunakan duct/conduit untuk jalur outdoor agar terlindungi dari gangguan mekanik.
  • Hindari tarik berlebihan (melebihi tensile rating).
  • Sambungan & splicing: gunakan fusion splicer untuk loss minimal; gunakan heat-shrink protection.
  • Pengujian:
    • OTDR — untuk menemukan refleksi/ongkos lari (loss) dan lokasi kerusakan.
    • Power meter & light source — mengukur insertion loss dan memastikan link memenuhi spesifikasi.
    • End-face inspection — pastikan konektor bersih & bebas goresan.
  • Dokumentasi: catat rute, jumlah serat, hasil OTDR, label konektor — sangat penting untuk maintenance.

10. Analisis Biaya: CAPEX vs OPEX

Pertimbangkan total cost-of-ownership (TCO), bukan hanya harga kabel:

  • CAPEX: biaya kabel, konector, transceiver, peralatan splicing, tenaga instalasi.
  • OPEX: biaya perawatan, pengujian berkala, downtime akibat kerusakan, upgrade.

Contoh: Single-mode lebih mahal di CAPEX (transceiver/laser), tapi sering lebih murah OPEX pada jaringan jarak jauh karena sedikit kebutuhan repeater / upgrade.


11. Contoh Rekomendasi Praktis

SituasiRekomendasiAlasan
FTTH / Last-Mile ke RumahSingle-Mode G.657A2 (drop cable)Kompatibel OLT/ONT, fleksibel di rumah
Backbone Antar KotaSingle-Mode, Loose-Tube, Armored, 24–144 coreKapasitas & proteksi untuk jarak jauh
Data CenterMultimode OM4 (atau SM untuk long-reach), Ribbon/MPOMendukung 10/40/100G, manajemen tinggi
Gedung PerkantoranMultimode OM3, Tight-Buffered, LSZH, 12–24 coreEfisien biaya & aman untuk indoor

12. Kata Penutup & Rekomendasi

Memilih kabel fiber optic harus berbasis analisis kebutuhan: jarak, lingkungan, bandwidth, dan rencana upgrade. Untuk kebanyakan instalasi indoor dan data center, multimode OM3/OM4 sudah sangat memadai; untuk backbone, FTTH, dan skenario jarak jauh, single-mode tetap jadi pilihan terbaik.


Referensi & Bacaan Lanjutan

  • The Fiber Optic Association (FOA) — basic cable types & testing
  • IEC / TIA standards — kabel & pengujian
  • Artikel teknis: Tekno Kompas / Falcom Technology / RF Industries
  • Dokumentasi vendor: Corning, Prysmian, OFS (untuk datasheet dan tensile/bend specs)

Memahami jenis-jenis kabel fiber optic.

Memahami Jenis-Jenis Kabel Fiber Optic

Memahami Jenis-Jenis Kabel Fiber Optic

Close-up serat fiber optic

Gambar: Ilustrasi serat fiber optic

Kabel fiber optic adalah media transmisi data yang mengirimkan informasi dalam bentuk cahaya. Namun istilah “fiber optic” mencakup beragam jenis kabel dengan karakteristik dan kegunaan berbeda. Artikel ini membahas perbedaan utama (mode transmisi), struktur fisik kabel, kelas multimode, tipe jaket/proteksi, serta panduan memilih kabel sesuai kebutuhan.


1. Perbedaan Utama: Single-Mode (SM) vs Multimode (MM)

Diagram perbedaan single mode dan multimode

Gambar: Ilustrasi Single-Mode vs Multimode

Perbedaan paling mendasar pada kabel fiber optic adalah ukuran inti (core) yang menentukan bagaimana cahaya merambat:

AspekSingle-Mode (SM)Multimode (MM)
Ukuran core~8–10 µm~50 µm atau 62.5 µm
Mode cahayaSatu mode → minim dispersiBanyak mode → dispersi modal
Panjang gelombang umum1310 nm, 1550 nm850 nm, 1300 nm
Jarak efektifSangat jauhPendek–menengah
Biaya perangkatLebih tinggiLebih murah
Penggunaan umumBackbone ISP, FTTH, antar kotaLAN, data center

2. Kelas Multimode: OM1 → OM5

Patchcord Multimode

Gambar: Contoh patchcord multimode

KelasCore (µm)Kinerja
OM162.5Cocok 1 Gbps jarak sangat pendek
OM2501G–10G jarak pendek
OM350 (laser-optimized)Mendukung 10G, 40G, 100G
OM450 (laser-optimized)Kinerja lebih tinggi dari OM3
OM550 (wideband)Dukungan SWDM / multi wavelength

3. Struktur Fisik Kabel: Tight-Buffered vs Loose-Tube

Struktur kabel loose tube

Gambar: Kabel outdoor loose-tube

  • Tight-buffered — lebih cocok untuk indoor, mudah diterminasi.
  • Loose-tube — serat berada dalam tabung longgar, ideal untuk outdoor.

4. Jacket, Proteksi & Tipe Kabel Khusus

Kabel armored fiber optic

Gambar: Kabel fiber armored

  • PVC — murah, umum untuk instalasi biasa.
  • LSZH — aman saat kebakaran (low smoke & zero halogen).
  • Armored — memiliki pelindung logam anti gigitan tikus/tekanan.
  • UV-resistant — cocok untuk outdoor aerial.
  • Water-blocking — menghalangi air masuk.

5. Konfigurasi Serat & Konektor

Konektor LC dan SC

Gambar: Konektor LC dan SC

  • Simplex / Duplex — 1 atau 2 serat.
  • Ribbon — berisi banyak serat sejajar.
  • Breakout — banyak serat dengan pelindung individual.
  • Konektor populer: LC, SC, ST, MPO/MTP.

6. Panduan Memilih Kabel

KebutuhanRekomendasi
Backbone luar kotaSingle-Mode + Loose-Tube
Data centerOM3/OM4 + MPO/MTP
Gedung perkantoranMultimode + LSZH
FTTH rumahSingle-Mode G.657A2

7. Praktik Instalasi

  • Hindari tekukan tajam (bend radius).
  • Gunakan duct/conduit untuk outdoor.
  • Lakukan pengujian OTDR & power meter.

Kesimpulan

Jenis-jenis kabel fiber optic sangat beragam. Pilih kabel berdasarkan jarak, kebutuhan bandwidth, lingkungan pemasangan, dan anggaran. Single-mode unggul jarak jauh; multimode cocok untuk jarak pendek dan indoor.

Memahami jaringan fiber optic.

Memahami Jaringan Fiber Optic: Apa, Mengapa, dan Keunggulannya

Gambar Kabel Fiber Optic

Apa itu Jaringan Fiber Optic?

Fiber Optic adalah teknologi jaringan yang mengirimkan data melalui serat optik yang terbuat dari kaca atau plastik, di mana sinyal ditransmisikan dalam bentuk cahaya. Teknologi ini memanfaatkan prinsip Total Internal Reflection sehingga cahaya dapat bergerak melalui serat tanpa bocor keluar, meskipun kabelnya sangat tipis.

Dibandingkan dengan kabel tembaga (UTP atau coaxial) yang mengandalkan arus listrik, fiber optic jauh lebih cepat, lebih stabil, dan lebih aman dari gangguan elektromagnetik. Inilah alasan mengapa hampir semua ISP dan perusahaan teknologi saat ini beralih menggunakan fiber optic untuk backbone dan koneksi last-mile.

Struktur Fiber Optic

Serat optik memiliki struktur berlapis yang dirancang untuk menjaga cahaya tetap berada di jalur yang benar. Berikut bagian-bagiannya:

  • Core — bagian paling dalam sebagai jalur cahaya. Semakin besar core, semakin besar pula kapasitas data.
  • Cladding — lapisan pembungkus yang memantulkan cahaya kembali ke core agar sinyal tidak bocor.
  • Coating — pelindung tipis yang menjaga serat dari goresan dan kelembapan.
  • Outer Jacket — lapisan terluar untuk melindungi kabel dari kerusakan fisik, gigitan hewan, dan cuaca.

Bagaimana Cara Kerja Fiber Optic?

Prinsip kerja fiber optic bergantung pada cahaya yang dipancarkan dari satu titik ke titik lain. Cahaya tersebut dapat berasal dari laser (untuk jarak jauh) atau LED (untuk jarak pendek). Saat cahaya masuk ke dalam core, cladding memantulkan cahaya bolak balik sehingga cahaya bergerak dengan cepat tanpa keluar dari jalurnya.

Proses ini disebut Total Internal Reflection—tanpa proses ini, cahaya akan bocor dan sinyal tidak akan sampai ke tujuan. Karena menggunakan cahaya, fiber optic mampu membawa data dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Ilustrasi Cara Kerja Fiber Optic

Keunggulan Jaringan Fiber Optic

Fiber optic memiliki banyak keunggulan dibanding teknologi kabel tradisional. Berikut beberapa keunggulan utamanya:

  • Kecepatan sangat tinggi — mampu mencapai gigabit hingga terabit per detik.
  • Bandwidth besar — mendukung lebih banyak pengguna dan data secara bersamaan.
  • Jarak transmisi jauh — sinyal tetap kuat hingga 40 km tanpa repeater, bahkan lebih dengan amplifier.
  • Tahan gangguan elektromagnetik — aman dari noise listrik, petir, dan interferensi.
  • Keamanan lebih tinggi — sulit untuk disadap karena tidak mengalirkan arus listrik.
  • Ringan dan fleksibel — lebih tipis dan ringan dibandingkan kabel tembaga.

Penggunaan Fiber Optic di Kehidupan Nyata

Fiber optic digunakan hampir di semua sektor karena kemampuannya mentransmisikan data dengan stabil. Beberapa contoh penggunaan sehari-hari antara lain:

  • Internet rumah — seperti Indihome, Iconnet, Biznet, MyRepublic, dll.
  • Koneksi antar gedung — kantor, mall, pabrik, rumah sakit.
  • Backbone ISP — tulang punggung internet Indonesia.
  • Data center — koneksi server dengan latensi rendah.
  • Jaringan TV kabel dan IPTV modern.
  • Telekomunikasi internasional — termasuk kabel laut (submarine fiber optic).
Pemasangan Fiber Optic

Kelemahan / Tantangan Fiber Optic

Walaupun sangat unggul, fiber optic juga memiliki beberapa tantangan:

  • Biaya instalasi tinggi — terutama jika perlu menarik kabel baru dari pusat jaringan.
  • Butuh teknisi profesional — penyambungan (splicing) butuh alat khusus seperti fusion splicer.
  • Sensitif terhadap tekukan tajam — dapat menyebabkan loss (penurunan kualitas cahaya).

Kesimpulan

Fiber optic adalah teknologi jaringan paling cepat, stabil, dan aman yang tersedia saat ini. Dengan kemampuan membawa data besar dalam jarak jauh tanpa gangguan, fiber optic menjadi pilihan utama untuk internet rumah, sekolah, kampus, perusahaan, dan data center modern.

Walaupun biaya pemasangan awalnya lebih tinggi dibanding kabel tembaga, kualitas dan keunggulannya membuat fiber optic menjadi investasi terbaik untuk masa depan konektivitas digital.

Sumber / Referensi

  • SMK Darmasiswa Sidoarjo – Apa Itu Fiber Optik
  • Kompas – Pengertian & Fungsi Fiber Optic
  • Falcom Technology – Fiber Optic
  • Universitas Wira Buana – Kelebihan Fiber Optic
  • Wikipedia – Optical Fiber

IP Address 192.168.1.0/27 - untuk subnet ke 1 - Kelompok 1

Subnetting 192.168.1.0/27 - Kelompok 1

Subnetting IP Address 192.168.1.0/27

Analisis lengkap — Subnet ke-1 (Kelompok 1)

👥 Anggota Kelompok 1

  • 525 - Mohammad Ali Ridho
  • 530 - Mutiara Endah Gusti Ayu
  • 527 - Muhammad Fauzan Habibul Adha
  • 533 - Raka Ilham Narendratama
  • 529 - Muhammad Roid Falih

🧮 Informasi singkat

IP
192.168.1.0/27
Subnet Mask
255.255.255.224
Mask (biner)
11111111.11111111.11111111.11100000
Blok per subnet
32 alamat
Host usable / subnet
30 host
Jumlah subnet (dari /24 → /27)
2³ = 8 subnet

📚 Cara Perhitungan:

  1. Tentukan prefix & mask: /27 → subnet mask = 255.255.255.224.
  2. Hitung bit host: 32 − 27 = 5 bit untuk host → total alamat per subnet = 2⁵ = 32.
  3. Host usable: usable = 32 − 2 = 30 (karena 1 alamat network + 1 broadcast tidak usable).
  4. Jumlah subnet: jika memulai dari /24 → tambahan 3 bit subnet (27−24), jadi 2³ = 8 subnet.
  5. Blok (increment): blok = 256 − 224 = 32 → berarti network addresses: 0, 32, 64, 96, 128, 160, 192, 224.
  6. Cara menentukan subnet ke-n: subnet ke-n (1-indexed) network = (n−1) * 32. Contoh subnet ke-1 → (1−1)*32 = 0 → network 192.168.1.0/27 (rentang .0 − .31).

Tip cepat: untuk /27 tambahkan 32 pada oktet terakhir untuk mendapat network berikutnya.

📘 Daftar Subnet (/27)

NoNetworkRentang HostBroadcast
1192.168.1.0/27192.168.1.1 - 192.168.1.30192.168.1.31
2192.168.1.32/27192.168.1.33 - 192.168.1.62192.168.1.63
3192.168.1.64/27192.168.1.65 - 192.168.1.94192.168.1.95
4192.168.1.96/27192.168.1.97 - 192.168.1.126192.168.1.127
5192.168.1.128/27192.168.1.129 - 192.168.1.158192.168.1.159
6192.168.1.160/27192.168.1.161 - 192.168.1.190192.168.1.191
7192.168.1.192/27192.168.1.193 - 192.168.1.222192.168.1.223
8192.168.1.224/27192.168.1.225 - 192.168.1.254192.168.1.255

🔎 Detail Subnet ke-1 (karena aku bagian Kelompok 1)

Subnet ke-1 = network 192.168.1.0/27 → rentang IP 192.168.1.0 − 192.168.1.31

KeteranganAlamat IP
Network (Subnet)192.168.1.0
Host 1192.168.1.1
Host 2192.168.1.2
Host 3192.168.1.3
Host 4192.168.1.4
Host 5192.168.1.5
Host 6192.168.1.6
Host 7192.168.1.7
Host 8192.168.1.8
Host 9192.168.1.9
Host 10192.168.1.10
Host 11192.168.1.11
Host 12192.168.1.12
Host 13192.168.1.13
Host 14192.168.1.14
Host 15192.168.1.15
Host 16192.168.1.16
Host 17192.168.1.17
Host 18192.168.1.18
Host 19192.168.1.19
Host 20192.168.1.20
Host 21192.168.1.21
Host 22192.168.1.22
Host 23192.168.1.23
Host 24192.168.1.24
Host 25192.168.1.25
Host 26192.168.1.26
Host 27192.168.1.27
Host 28192.168.1.28
Host 29192.168.1.29
Host 30192.168.1.30
Broadcast192.168.1.31

✅ Kesimpulan

Subnet ke-1 memiliki rentang IP 192.168.1.0 – 192.168.1.31 dengan 30 host usable (192.168.1.1 – 192.168.1.30). Subnet mask: 255.255.255.224. Blok setiap subnet = 32.

Cocok untuk jaringan kelas/lab kecil hingga 30 perangkat. Untuk subnet ke-n gunakan rumus (n−1)*32 untuk oktet terakhir.

Kamis, 20 November 2025

Subnetting VLSM Untuk 192.168.10.0/25

VLSM – Lengkap & Detail

1. Soal

Network: 192.168.10.0/25
Kebutuhan host:

  • Subnet A = 60 host
  • Subnet B = 24 host
  • Subnet C = 12 host
  • Subnet D = 5 host

2. Urutkan dari host terbesar

SubnetHostKebutuhan BlockPrefix
A6064/26
B2432/27
C1216/28
D58/29

3. Diagram Alokasi (Tree)

192.168.10.0/25   (0 – 127)
 ├─ 192.168.10.0/26   (0 – 63)    → Subnet A (60 host)
 ├─ 192.168.10.64/27  (64 – 95)   → Subnet B (24 host)
 ├─ 192.168.10.96/28  (96 – 111)  → Subnet C (12 host)
 ├─ 192.168.10.112/29 (112 – 119) → Subnet D (5 host)
 └─ 192.168.10.120/29 (120 – 127) → Cadangan

4. Tabel Akhir Subnet

Subnet Prefix Network Usable Range Broadcast Usable
A /26 192.168.10.0 192.168.10.1 – 192.168.10.62 192.168.10.63 62
B /27 192.168.10.64 192.168.10.65 – 192.168.10.94 192.168.10.95 30
C /28 192.168.10.96 192.168.10.97 – 192.168.10.110 192.168.10.111 14
D /29 192.168.10.112 192.168.10.113 – 192.168.10.118 192.168.10.119 6

Rabu, 12 November 2025

IP Address 192.168.1.0/29 - untuk subnet ke 17

Subnetting 192.168.1.0/29 — Langkah perhitungan & Tabel lengkap

Subnetting: 192.168.1.0/29

Dokumen ini menampilkan perhitungan langkah-demi-langkah dan tabel lengkap semua blok /29 pada jaringan 192.168.1.0/24. Salin seluruh isi mode HTML di Blogger (New Post → HTML view) untuk menempelkan.

1. Informasi dasar

  • IP awal: 192.168.1.0
  • Prefix: /29
  • Subnet mask: 255.255.255.248
  • Jumlah bit host: 32 - 29 = 3 bit
  • Jumlah alamat per subnet: 2^3 = 8 alamat
  • Alamat usable per subnet: 8 - 2 = 6 host (network & broadcast tidak bisa dipakai)

2. Cara menghitung (langkah demi langkah)

  1. Konversi prefix /29 → subnet mask: 29 bit network + 3 bit host → 255.255.255.248.
  2. Blok alamat = 256 / (jumlah subnet dalam /24 dengan /29) atau langsung gunakan "block size" pada oktet terakhir: 256/32 = 8. Dengan /29, setiap subnet melompat tiap 8 pada oktet terakhir (0, 8, 16, 24...).
  3. Untuk setiap blok: Network = alamat pertama; Broadcast = alamat terakhir; First host = network + 1; Last host = broadcast - 1.
  4. Contoh untuk blok pertama (0–7): network = 192.168.1.0, broadcast = 192.168.1.7, host usable = 192.168.1.1 sampai 192.168.1.6.

3. Tabel lengkap semua subnet /29 untuk jaringan 192.168.1.0/24

#NetworkFirst HostLast HostBroadcastSubnet Mask
1192.168.1.0192.168.1.1192.168.1.6192.168.1.7255.255.255.248
2192.168.1.8192.168.1.9192.168.1.14192.168.1.15255.255.255.248
3192.168.1.16192.168.1.17192.168.1.22192.168.1.23255.255.255.248
4192.168.1.24192.168.1.25192.168.1.30192.168.1.31255.255.255.248
5192.168.1.32192.168.1.33192.168.1.38192.168.1.39255.255.255.248
6192.168.1.40192.168.1.41192.168.1.46192.168.1.47255.255.255.248
7192.168.1.48192.168.1.49192.168.1.54192.168.1.55255.255.255.248
8192.168.1.56192.168.1.57192.168.1.62192.168.1.63255.255.255.248
9192.168.1.64192.168.1.65192.168.1.70192.168.1.71255.255.255.248
10192.168.1.72192.168.1.73192.168.1.78192.168.1.79255.255.255.248
11192.168.1.80192.168.1.81192.168.1.86192.168.1.87255.255.255.248
12192.168.1.88192.168.1.89192.168.1.94192.168.1.95255.255.255.248
13192.168.1.96192.168.1.97192.168.1.102192.168.1.103255.255.255.248
14192.168.1.104192.168.1.105192.168.1.110192.168.1.111255.255.255.248
15192.168.1.112192.168.1.113192.168.1.118192.168.1.119255.255.255.248
16192.168.1.120192.168.1.121192.168.1.126192.168.1.127255.255.255.248
17192.168.1.128192.168.1.129192.168.1.134192.168.1.135255.255.255.248
18192.168.1.136192.168.1.137192.168.1.142192.168.1.143255.255.255.248
19192.168.1.144192.168.1.145192.168.1.150192.168.1.151255.255.255.248
20192.168.1.152192.168.1.153192.168.1.158192.168.1.159255.255.255.248
21192.168.1.160192.168.1.161192.168.1.166192.168.1.167255.255.255.248
22192.168.1.168192.168.1.169192.168.1.174192.168.1.175255.255.255.248
23192.168.1.176192.168.1.177192.168.1.182192.168.1.183255.255.255.248
24192.168.1.184192.168.1.185192.168.1.190192.168.1.191255.255.255.248
25192.168.1.192192.168.1.193192.168.1.198192.168.1.199255.255.255.248
26192.168.1.200192.168.1.201192.168.1.206192.168.1.207255.255.255.248
27192.168.1.208192.168.1.209192.168.1.214192.168.1.215255.255.255.248
28192.168.1.216192.168.1.217192.168.1.222192.168.1.223255.255.255.248
29192.168.1.224192.168.1.225192.168.1.230192.168.1.231255.255.255.248
30192.168.1.232192.168.1.233192.168.1.238192.168.1.239255.255.255.248
31192.168.1.240192.168.1.241192.168.1.246192.168.1.247255.255.255.248
32192.168.1.248192.168.1.249192.168.1.254192.168.1.255255.255.255.248

Contoh detail subnet ke-17

Subnet ke-17 192.168.1.128 – 192.168.1.135

Keterangan Alamat IP
Subnet192.168.1.128
Host 1192.168.1.129
Host 2192.168.1.130
Host 3192.168.1.131
Host 4192.168.1.132
Host 5192.168.1.133
Host 6192.168.1.134
Broadcast192.168.1.135

Tips: Di Blogger, buka post baru → klik tab HTML → tempelkan isi HTML ini → kembali ke tab Compose untuk memeriksa tampilan.


© Subnetting helper — generated for assignment